trial_mode: on

Ombak Tinggi Laut Bergolak

  • 19-07-2018 / 23:52 WIB
  • Kategori:Nasional
Ombak Tinggi Laut Bergolak TERHEMPAS OMBAK: Detik-detik kapal motor Joko Berek sebelum terbalik di Perairan Pelawangan Puger Jember, kamis (19/7) pagi,

MALANG – Laut selatan Jawa sedang bergolak. Gelombang tinggi juga ikut melanda pesisir Malang selatan. Nelayan di Pelabuhan Sendangbiru dan Pantai Tamban tidak berani melaut.

 Selain itu, tempat wisata di kawasan wisata Pantai Bolu-Bulo, Pantai Wedi Awu dan Pantai Lenggoksono (Bowele) di Desa Purwodadi, Kecamatan Tirtoyudo sementara ditutup.

Ombak setinggi tiga meter dan angin kencang berbahaya bagi wisatawan. “Sudah dua hari ini tempat wisata kawasan Bowele kami tutup. Lantaran ombak tinggi, berbahaya. Tinggi ombak saat ini bisa mencapai tiga meter dan terus bertambah ketinggianya,” ujar Pengelola Bowele Mukhlis kepada Malang Post.

Dia menjelaskan, penutupan sementara tempat wisata tersebut sudah diumumkan melalaui media sosial  Facebook. “Namun, masih ada wisatawan yang datang ke pantai ini. Sehingga, mereka hanya bisa melihat-lihat di pinggir pantai. Sebab kami juga menghentikan penyewaan perahu,” paparnya gamblang.

Meski tempat wisata ditutup, aktivitas surfing masih tetap berlanjut. Ombak tinggi merupakan tantangan bagi penggila olahraga ini. “Bahkan saat ini ada peselancar dari Jepang sedang asyik berselancar menaklukkan ombak di Pantai Wedi Awu bersama peselancar lokal lain. Ombak tinggi tantangan bagi mereka,” ungkapnya.

Ombak tinggi juga terjadi di Pantai Balekambang. Karena kondisi ombak semakin mengkhawatirkan, pengelola tempat wisata itu dalam hal ini PD Jasa Yasa menambah rambu-rambu peringatan di sekitar pantai. Hal ini bertujuan supaya wisatawan tidak nekat untuk bermain ataupun berenang di laut seputaran pantai tersebut.

“Pantai balekambang belum kami tutup. Namun, kami menambah jumlah rambu-rambu peringatan bertuliskan awas ombak ganas. Kami berharap, wisatawan mematuhi rambu-rambu tersebut,” kata Direktur Utama (Dirut) PD Jasa Yasa Ahmad Faiz Wildan. Dia mengatakan, ombak di Pantai Balekambang saat ini setinggi 3,5 meter.

Ketua Nelayan Sendang Biru Umar Hasan mengatakan, para nelayan yang memiliki perahu besar tidak berani melaut akibat ombak tinggi tersebut. Sedangkan nelayan kecil masih ada yang mencari ikan tangkap di seputaran Pulau Sempu. Mereka harus tetap melaut, untuk dapat bertahan hidup dan menghidupi keluarga masing-masing.

“Kalau mencari ikan di lautan lepas, nelayan tidak berani. Karena ombak saat ini sedang tinggi. Apalagi kami juga sudah mendapat peringatan dari BMKG,” terangnya.

Dia menjelaskan, akibat ombak tinggi, produktivitas ikan tangkap menjadi menurun. Karena intensitas nelayan dalam mencari ikan terus menurun. “Beruntung di Sendangbiru ada Pulau Sempu yang bisa menahan ombak tinggi. Sehingga, aktivitas nelayan tidak berhenti sepenuhnya. Masih ada yang mancing dan mencari ikan menggunakan perahu kecil. Tapi hasinya kurang maksimal,” paparnya.

Dia  telah mengimbau kepada nelayan untuk tidak nekat melaut saat ombak tinggi saat ini. Karena kondisi perairan di Malang selatan saat ini, kondisinya berbahaya apabila ada aktivitas melaut.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang Bagyo Setiono sudah memberikan warning kepada masyarakat sekitar pesisir selatan dan para nelayan terkait tingginya ombak tersebut. “BMKG sudah mengeluarkan warning ketinggian ombak tiga meter dan berlangsung hingga besok (hari ini). Warning tersebut kemudian kami teruskan kepada masyarakat pesisir selatan, nelayan dan berbagai komunitas,” tuturnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, pihaknya meningkatkan pantauan di beberapa pantai selama ombak tinggi berlangsung. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya bencana maupun kecelakaan di perairan seperti yang ada di Puger, Jember. “Petugas beserta relawan BPBD kami instruksikan untuk buka mata, buka telinga dan meningkatkan kewaspadaanya. Alhamdulillah, hingga saat ini belum ada kejadin kecelakaan di perairan. Tentunya kami berharap tidak ada kejadian,” katanya.

Sementara semalam, terjadi gempa bumi di perairan Malang selatan. Gempa berkekuatan 5,8 SR itu terasa di sejumlah wilayah Malang Raya, termasuk terasa di Kantor Malang Post. Kepala BMKG Satgeo Karangkates H Musripan mengatakan, gempa bumi tersebut tidak ada hubungannya dengan gelombang tinggi.

“Penyebab terjadinya gempa ini ada aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia yang menyusup ke bawah lempeng Eurasia. Gempa ini tidak berpotensi tsunami,” tuturnya. Dia menegaskan, aktivitas lempeng yang menimbulkan gempa bisa terjadi setiap saat. Hingga berita ini ditulis, belum dilaporkan adanya kerusakan akibat gempa tersebut. (big/han)

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI