STOP Jadi Facebooker?

  • 26-04-2018 / 23:46 WIB
  • Kategori:Opini
STOP Jadi Facebooker? Ilustrasi

Oleh SUGENG WINARNO

Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP

Universitas Muhammadiyah Malang

 

Facebook bikin heboh. Dunia tiba-tiba digemparkan dengan berita tentang puluhan juta data pengguna Facebook (facebooker) yang bocor. Tidak hanya itu, data personal facebooker juga telah digunakan oleh pihak ketiga untuk kegiatan manipulatif dalam kontestasi pemilihan presiden Amerika. Tidak sedikit data pribadi facebooker Indonesia yang disalahgunakan. Kini banyak pihak menyuarakan untuk tidak menggunakan Facebook lagi. Tagar #DeleteFacebook, #BoycotFacebook, #Tutup Facebook Indonesia dan #Stop Jadi Facebooker ramai di media sosial (medsos).

Atas kasus pencurian data pengguna Facebook Indonesia ini, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika telah melayangkan Surat Peringatan ke 2 (SP2) kepada Facebook. Kepolisian Negara RI juga terus mengembangkan penyelidikan terhadap 1.096.666 akun facebooker warga Indonesia yang datanya dicuri oleh konsultan politik asal Inggris, Cambridge Analytica. Data facebooker ini digunakan untuk kampanye pemenangan Donald Trump dalam Pilpres Amerika 2016 silam (Kompas, 20/4/2018).

Peristiwa ini memang menjadi isu dunia. CEO Facebook Mark Zuckerberg mengakui telah melakukan kesalahan. Data facebooker yang disalahgunakan mencapai 87 juta pengguna dari seluruh dunia. Skandal terkuaknya pencurian data pribadi facebooker ini pertama kali diungkap oleh The New York Times dan London’s Observer. Selain terkena kasus skandal ini, Facebook juga diterpa isu berita bohong dan penyebaran ujaran kebencian. Platform medsos yang terpopuler ini kini berhadapan dengan situasi kemungkinan bakal ditinggal penggunanya.

 

Media Baru Rawan Manipulasi

Banyak pihak yang mengawatirkan bocornya data facebooker akan terulang terutama dalam ajang kontestasi Pilpres, Pileg, dan Pilkada mendatang. Karena tidak sedikit tim sejumlah partai yang menggunakan data medsos untuk menyusun strategi kampanye politik partai atau kandidat yang diusungnya. Kasus Cambridge Analytica    bisa jadi pembelajaran yang berharga agar para konsultan politik mengedepankan kejujuran dalam mencari dan menggunakan data.

Pada era media baru saat ini memang memungkinkan terjadi pencurian dan menyalahgunakan data. Kondisi ini semakin diperburuk karena pengguna medsos yang tidak hati-hati terhadap data personal mereka. Tidak jarang diantara facebooker dengan gampang mengumbar data yang tergolong rahasia. Informasi yang bersifat privasi justru tersebar untuk konsumsi publik. Sebagian besar masyarakat kita juga selalu ingin tahu privasi orang lain.

Secara teknologi, lahirnya media baru memang memungkinkan terjadinya manipulasi. Orang yang diotaknya ada pikiran jahat selalu menemukan celah untuk menjalankan aksi kejahatannya lewat olah data yang tersedia di medsos. Di era big data saat ini, data menjadi aset penting yang bisa digunakan untuk beragam kepentingan. Manipulasi personal data facebooker untuk kepentingan kampanye politik tim Donald Trump merupakan salah satu contoh nyata dari penyalahgunaan olah data medsos.

Vincent Mosco dalam bukunya yang berjudul Marx in Age of Digital Capitalism (2016), seperti dikutip Agus Sudibyo menjelaskan bahwa beragam media baru seperti medsos, mesin pencari (search engine), dan e-commerce telah menciptakan ekosistem baru yang sangat rawan manipulasi dan kejahatan. Kerawanan yang muncul bisa diakibatkan karena ketidaktahuan para pengguna internet akan beragam resiko ketika berkomunikasi di ruang digital. Faktor perusahaan media yang bisa tanpa batas mengakses data privasi pengunanya juga merupakan kerawanan. Tidak adanya jaminan keamanan penguna data digital dan belum tersedianya pranata hukum untuk menanggulangi manipulasi dan penyelewengan data juga menjadi pemicu kerawanan (Kompas, 29/3/2018).

 

Madu-Racun Facebook

Facebook memang bagaikan madu. Banyak orang merasakan manisnya menggunakan medsos ini. Namun media ini juga bisa menjadi racun, ketika ternyata merugikan bagi pemakainnya. Inilah sejatinya teknologi yang selalu bermata ganda. Ada sisi baik, namun pada bagian yang lain sisi gelapnya tak bisa terhindarkan. Facebook sebagai medsos dengan pengguna terbesar dan tersebar di seluruh penjuru dunia terbukti sangat membantu penggunanya.

Lihat saja para pelaku bisnis online. Banyak diantara mereka yang menggunakan Facebook sebagai sarana media promosi yang murah. Melalui Facebook banyak orang dari segala penjuru negeri bisa dipertemukan. Saudara, sahabat, dan kerabat yang terpisah bisa dipertemukan lewat media maya ini. Facebook juga bermanfaat untuk menggalang simpati dan dana bagi korban bencana dan orang kesusahan.

Namun pada sisi lainnya, lewat Facebook, kejahatan juga merajalela. Penipuan dan sejumlah aksi pelanggaran hukum tidak jarang justru berawal dari interaksi di Facebook. Data yang muncul di profil seseorang ternyata disalahgunakan orang jahat guna menjalankan aksinya. Untuk itu dalam era big data seperti saat ini semua penguna medsos harus selalu waspada.

Data personal seperti nomor handphone, alamat email, dan nomor induk kependudukan sejatinya adalah data privat. Data ini idealnya tidak diumbar ke publik karena rawan penyalahgunaan. Namun terkadang kita lupa, data-data privat tersebut di share begitu saja tanpa berpretensi buruk. Kini banyak kasus yang memanfaatkan personal data seseorang untuk tujuan jahat.

Tidak jarang diantara kita yang mendapat SMS atau pesan WhatsApp penipuan yang masuk melalui nomor handphone kita. Mengapa bisa begitu, darimana mereka dapat nomor kita? Kalau kita pernah mengalami hal itu berarti data pribadi kita bocor. Email kita juga sering kemasukan pesan-pesan dari orang yang tidak kita kenal. Ini juga menjadi indikasi bahwa beberapa data privasi kita telah menjadi konsumsi publik. Orang yang punya maksud jahat bisa menggunakan data pribadi sebagai sarana menyebarkan aksi jahatnya.

Bagi para facebooker hendaknya berfikir jernih. Kalau tetap akan memutuskan menggunakan Facebook, maka harus hati-hati dan waspada. Tidak lagi mengumbar informasi personalnya. Bagi mereka yang hendak stop jadi facebooker dan berpaling ke medsos lain juga harus tetap waspada, karena medsos serupa Facebook banyak tersedia dan memiliki cara kerja yang hampir serupa. Tidak ada yang benar-benar aman hidup di muka bumi ini. Waspadalah para facebooker. (*)

Editor : oci
Uploader : angga
Penulis :
Fotografer :

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU