Pejuang Verifikasi!

  • 09-02-2020 / 05:47 WIB
  • Kategori:Catatan
Pejuang Verifikasi!

Media sosial dan media online, apa bedanya?

Bagi yang tak peduli, mungkin tak penting juga mengetahui bedanya. Yang pasti beda.

Sebenarnya penting. Sepenting mengetahui bedanya hoax dan berita yang faktual.

Tak bisa disamakan media sosial dan media online. Seperti halnya media cetak atau media elektronik, juga tak bisa disamakan dengan media sosial.

Banyaknya info yang beredar di media sosial (medsos) belum tentu bisa dikatakan sebagai sebuah berita, layaknya di media online.

Info, meskipun itu benar adanya, sebuah potongan pesan atau kumpulan pesan awal yang disampaikan seseorang dan diterima oleh institusi media sosial, seperti facebook, twitter atau instagram.

Sementara berita, adalah kumpulan info yang telah dicek kebenarannya dan telah diverifikasi sebelum disampaikan kepada publik atau masyarakat luas.

Berita, adalah produk kerja dari pers. Merupan hasil proses jurnalistik yang dikerjakan wartawan.

Memiliki standar kompetensi, wartawan bekerja dengan batasan kode etik jurnalistik.

Produk wartawan berupa berita, adalah hasil kerja tim redaksi dengan standarisasi tinggi dan bisa dipertanggungjawabkan.

Tim redaksi memiliki alamat yang jelas dan berbadan hukum. Kerjanya jelas. Bukan abal-abal.

Dalam produk beritanya, pun menggunakan sumber yang resmi dan bisa dipertanggung jawabkan. Hingga bisa disampaikan melalui berbagai platform media. Baik cetak, online, TV dan radio.

Bagaimana produk medsos? Adalah hasil dari penyebaran info. Berupa potongan atau kumpulan pesan yang bisa disampaikan oleh siapa saja.

Dikerjakan secara individual dan tak bisa dipertanggung jawabkan secara jurnalistik.

Seseorang bisa secara bebas menyampaikan pesannya itu dengan memanfaatkan kemudahan teknologi di medsos. Identitas pun bisa dipalsukan.

Info atau pesan itu disampaikan melalui medsos seperti twitter, facebook, instagram, whatsapp, line dan aplikasi medsos lainnya.

Bisa saja info tersebut benar karena mendapatkan info dari sumber resmi, dan bisa tidak jelas sumbernya, bahkan bisa hasil rekayasa. Alias hoax.

Hoax ini seringnya merusak fakta yang ada. Apalagi jika tersebar luas melalui medsos, bisa menenggelamkan fakta sebenarnya. Bahkan tidak sedikit, produk berita jurnalistik ikut jadi korbannya.

Jujur, tidak semua berita yang diproduksi oleh wartawan itu 100 persen aman dikonsumsi publik.

Masih ada juga berita yang bermasalah. Sebut saja berita abal-abal yang dibuat secara asal-asalan, cenderung miring, memojokkan atau menuduh. Biasanya digunakan wartawan abal-abal untuk 'menyerang' korbannya.

Ada juga berita buzzer dengan tujuan tertentu yang kemudian disebar melalui medsos. Harapannya mendapatkan pengikut dan ingin memenangkan opini. Berita seperti ini biasanya dibuat oleh pihak-pihak yang dibayar oleh pemilik kepentingan.

Lalu yang menjadi musuh bersama adalah berita hoax. Berita bohong yang sengaja dibuat agar jadi perbincangan di masyarakat. Tujuannya ingin mendapat keuntungan tertentu, dibuat oleh orang tak bertanggung jawab atau orang iseng dan bisa juga diciptakan kelompok bayaran.

Inilah tantangan bagi media. Dalam menjalankan pers yang baik dan benar. Melalui media yang ada. Khususnya media online yang sering disamakan dengan media sosial.

Perlu dipahami, media online tidak sama dengan media sosial. Meski juga harus diakui, media online pun memiliki banyak ragam.

Berdasarkan kualitas, seperti dirilis Dewan Pers, media bisa dibedakan dalam 4 kuadran.

Kuadaran pertama. Memiliki status jelas (terverifikasi Dewan Pers), ada penanggung jawab dan alamat redaksi, memenuhi syarat undang-undang pers dan peraturan dewan pers, dikelola oleh wartawan berkompeten, produknya menaati kode etik jurnalistik dan menjalankan fungsi pers secara benar.

Kuadran kedua. Media ini statusnya kurang jelas, misal belum menuhi syarat badan hukum, sebagian terdaftar di Dewan Pers, tapi produknya menaati kode etik jurnalistik, menjalankan fungsi pers secara benar, sebagian memiliki penanggung jawab dan mencantumkan alamat redaksi.

Kuadran ketiga. Media ini statusnya tak jelas, juga tak terdaftar di Dewan Pers, tak mencantumkan penanggungjawab dan alamat redaksi, bermuatan negatif, beritanya sering berisi kebohongan dan memutar balik fakta, sering juga mengumbar isu SARA.

Kuadran keempat. Media ini sebenarnya memiliki status terdaftar atau bahkan terverifikasi Dewan Pers, hanya saja konten beritanya sering tak sesuai standar jurnalistik, bahkan banyak melanggar kode etik jurnalistik. Bisa saja dilakukan media partisan.

Bagaimana Malangpostonline.com? Media online dengan tagline 'Tepercaya, Cepat dan Akurat' ini hampir bisa dipastikan berada di kuadran pertama.

Resmi berbadan hukum, sesuai undang-undang pers, kini tengah berjuang mendapatkan verifikasi Dewan Pers. Sebuah lembaga independen di Indonesia yang berfungsi untuk mengembangkan dan melindungi kehidupan pers di Indonesia.

Mohon doa restu, Malangpostonline.com sudah melengkapi semua persyaratan yang telah ditentukan dan menunggu antrian proses verifikasi Dewan Pers.

Semoga dalam waktu dekat bisa terverifikasi Dewan Pers, sehingga Malangpostonline.com benar-benar 100 persen berada di kuadran pertama itu.

Kami akui, proses verifikasi ini tidak mudah dan cenderung sulit. Bahkan oleh media yang resmi sekalipun. Apalagi dilakukan oleh media abal-abal.

Selain memiliki badan hukum melalui keputusan Kemenkumham, harus dilengkapi dengan peraturan perusahaan yang disahkan Disnaker, punya kode perilaku perusahaan pers, ada pedoman media siber, SOP perlindungan wartawan dan syarat penting lainnya adalah sudah terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan.

Lebih penting lagi, wartawan yang terdaftar harus lulus uji kompetensi, minimal enam orang. Lengkap untuk jenjang wartawan muda, wartawan madya dan wartawan utama.

Sementara untuk memiliki wartawan yang lulus uji kompetensi ini juga tidak mudah. Masing-masing jenjang wartawan harus diuji dengan tingkat kesulitan yang berbeda.

Khusus pemimpin redaksi disyaratkan harus lulus uji kompetensi wartawan utama. Syarat yang tidak mudah, untuk mendapatkan verifikasi Dewan Pers.

Semua diperiksa kebenaran dari media ini secara detil. Ada verifikasi administrasi dan verifikasi faktual.

Mulai legalitasnya, administrasi perusahaan, sumber daya manusia, kondisi fisik kantor, kompetensi wartawan, kesejahteraan dan perlindungan wartawan hingga keberlangsungan pers.

Itu semua kami lakukan. Penuh perjuangan.

Berharap sebelum ulang tahun yang kedua Malangpostonline.com pada 2 Mei mendatang, kami sudah terverifikasi Dewan Pers.

Akhirnya, kami sebagai pejuang verifikasi mengucapkan selamat Hari Pers Nasional, 9 Februari 2020. Semoga pers terus menggelora, semakin dipercaya, jaya selamanya. (*)

Editor : bua
Uploader : slatem
Penulis : Buari
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU