Ruwatan Garudeya Jadi Agenda Tahunan Wisata Kabupaten

  • 27-07-2018 / 14:03 WIB
  • Kategori:Kabupaten
Ruwatan Garudeya Jadi Agenda Tahunan Wisata Kabupaten RUWAT : Ritual Ruwatan Srngkala Nagara bur Manuk atau Ruwatan Garudeya menjadi tontonan budaya yang menarik dan menjadi agenda tahunan Pemkab Malang. (Foto : Guest Gesang/Malang Post)

MALANG -  Ritual Ruwatan Sengkala Nagari Bur Manuk atau Ruwatan Garudeya, menarik minat Bupati Malang, H. Rendra Kresna. Agenda yang berlangsung di Candi Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang itu, bakal ditetapkan sebagai agenda tahunan Pemkab Malang mulai tahun depan.

Hal tersebut disampaikan oleh Rendra saat menghadiri ruwatan tersebut, Kamis (26/7) kemarin. Dia mengatakan Ruwatan Sengkala Nagari Bur-Manuk atau Ruwatan Garudeya ini adalah kegiatan kebudayaan yang patut menjadi kebanggaan.

"Kabupaten Malang patut berbangga, Candi Kidal menjadi inspirasi bagi Presiden Soekarno dalam menentukan lambang negara," ujar Rendra.

Ya, berdasarkan sejarahnya, lambang negara Indonesia adalah inspirasi Presiden RI pertama, Soekarno. Dia menggunakan lambang garuda sebagai simbol negara yang belakangan diketahui terinspirasi dari patung garudeya yang berada di Candi Kidal.

Selain itu, tulisan Bhinneka Tunggal Ika yang tertulis dibawah cengkeraman kuku garuda juga dicetuskan oleh Raja singosari Ken Arok, yang notabene pusat kepemimpinannya juga berasal dari Kabupaten Malang. Sehingga, dia menekankan bila ritual tersebut bakal menjadi atensi khusus untuk tahun depan.

“Uri-uri budaya Jawa, menjadi salah satu aspek penting untuk mempertahankan kesatuan NKRI.  Keberadaan tradisi maupun ritual semacam ini juga berpotensi untuk meningkatkan pariwisata Kabupaten Malang. Harapan kami dengan adanya tradisi semacam ini bisa menarik wisatawan supaya berkunjung kesini,” tambah dia.

Ia menyampaikan, selama ini Kabupaten Malang memiliki even rutin tahunan seperti Beach Festival dan Grebeg Singosari. Tentunya, jika pemerintah turut meng-handle Ruwatan Garudeya, maka kemasannya akan disusun sedemikian rupa agar menarik menjadi suatu agenda. “Kegiatan ini sebenarnya entertainment sehingga turut membangkitkan dunia kepariwisataan,” terangnya.

Dia menekankan, meski direncanakan sebagai upaya untuk mengembangkan pariwisata berbasis budaya pihak yayasan dan panitia yang sudah tiap tahun mempelopori tetap dilibatkan, yakni Yayasan Raket Prasojo KRAT.

Sementara itu, Ketua Umum Yayasan Raket Prasojo KRAT Sutrimo RB menyampaikan bahwa ritual ini biasanya digelar pada hari kelahiran Raja Singosari. "Karena sekarang Kabupaten Malang dipimpin oleh Bupati, maka kami sesuaikan dengan weton (hari lahir berdasarkan perhitungan jawa) Pak Rendra yaitu Kamis Pahing," ujar Sutrimo.

Dia menuturkan, ritual ini digelar di Candi Kidal pada tanggal 12 jita dhama, tahun 2029 penanggalan Jawa. Dalam ritual ini, sebanyak 500 ekor burung dilepas ke alam. Pelepasan burung ini merupakan simbol kesetiaan terhadap negara. Disamping itu tiap undangan yang datang juga diminta untuk memotong sedikit rambut dan kuku, serta meneteskan sedikit darahnya ke dalam wadah khusus.

"Proses ini dinamakan leksono sengkalan, setelah upacara ini akan dilarung di Pantai Balekambang sebagai simbol untuk menjauhkan sifat-sifat yang buruk," ungkapnya.

Ruwatan tersebut memiliki inti menaikkan doa dan memohon kebaikan kepada Tuhan. Harapannya, supaya diberikan kedamaian, ketentraman dan ketertiban sehingga tercipta suasana yang nyaman dan aman. (ley/mar)

Editor : mar
Uploader : dinda
Penulis :
Fotografer :

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU