UPDATE NOW
UPDATE NOW
   UPDATE NOW

Memaknai Kartini Dalam Perspektif Islam

  • 27-04-2018 / 00:01 WIB
  • Kategori:Mimbar Jumat
Memaknai Kartini Dalam Perspektif Islam ist

Oleh : AHMAD FATONI

Pengajar PBA-FAI Universitas Muhammadiyah Malang

 

SATIAP tanggal 21 April kita diingatkan dengan Hari Kartini sebagai penghormatan atas wujud perjuangan kaum perempuan, simbol persamaan gender, emansipasi wanita. Belakangan pergerakan wanita semakin terasa dan membawa dampak luar biasa. Bahkan sekarang, melihat kaum perempuan berada di posisi kepemimpinan bukanlah hal yang begitu tabu lagi, meskipun adat ketimuran tidak sepenuhnya punah, terutama budaya patriarki.

Kenyataannya, sejak ‘sang pahlawan kaum perempuan’ itu tiada, aksi kekerasan dan diskriminasi masih menjadi hantu bagi perempuan Indonesia. Terbukti jumlah kekerasan terhadap perempuan setiap tahunnya terus meningkat. Berdasarkan catatan tahunan Komnas Perempuan tahun 2017, ada 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani selama tahun 2016.

Petakanya, seperti disampaikan Direktur Eksekutif Institute Perempuan Ellin Rozana, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia faktanya bisa lebih banyak dari yang tercatat. Dugaan ini cukup kuat, mengingat sampai saat ini masih banyak perempuan korban kekerasan yang enggan melapor dan mengungkapkan penderitaannya.

Kendati isu gender yang mendiskriminasi kaum perempuan sudah lama gaungnya, realitas ini tidak akan pernah redup selama praktik trafficiking, diskriminasi dalam mendapatkan pendidikan dan penghasilan, kekerasan dalam rumah tangga dan bentuk-bentuk kesewenangan lain tetap terpelihara. Maraknya kasus tindakan kekerasan terhadap kaum perempuan, baik kekerasan yang bersifat fisik maupun kekerasan yang bersifat mental, baik kekerasan yang terjadi di ruang domestik maupun di ranah publik merupakan bukti bahwa dalam banyak hal, kaum perempuan di negeri ini memang masih relatif terpinggirkan.

Zaitunah Subhan dalam buku Menggagas Fiqh Pemberdayaan Perempuan (2008) mencatat bentuk-bentuk kekerasan yang biasa disebut dengan KDRT, misalnya, berupa penganiayaan fisik seperti pukulan, tamparan, tendangan dan sebagainya, berupa penganiayaan psikis seperti penghinaan, pelecehan, ancaman, merendahkan harga diri, menceraikan dan memisahkannya dari anak-anak, serta berupa kekerasan ekonomi dengan tidak memberi nafkah, menguasai hasil kerja istri, memaksa kerja untuk suami. Juga bisa berupa kekerasan seksual seperti memaksakan istri menggugurkan kandungannya.

 

Posisi Perempuan Pra Islam

Kekerasan terhadap perempuan merupakan cerita klasik yang hingga kini masih menjadi perbincangan publik. Menurut Jawad (1998) sejarah peradaban manusia mencatat bahwa kedudukan perempuan, sebelum datangnya Islam, sangat mengkhawatirkan, mereka tidak dipandang sebagai manusia yang pantas dihargai. Bahkan perempuan tidak lebih dipandang sebagai makhluk pembawa sial dan memalukan serta tidak mempunyai hak untuk diposisikan di tempat yang terhormat di masyarakat. Praktik yang tidak manusiawi ini tercatat berlangsung lama dalam sejarah peradaban masa lalu.

Dalam tradisi Arab, kondisi perempuan menjelang datangnya Islam bahkan lebih memprihatinkan. Perempuan di masa jahiliyah dipaksa untuk selalu taat kepada kepala suku atau suaminya. Mereka dipandang seperti binatang ternak yang bisa di kontrol, dijual atau bahkan diwariskan. Arab jahiliyah terkenal dengan tradisi mengubur bayi perempuan hidup-hidup dengan alasan hanya akan merepotkan keluarga dan mudah ditangkap musuh yang pada akhirnya harus ditebus. Dalam dunia Arab jahiliyah juga dikenal tradisi tidak adanya batasan laki-laki mempunyai isteri.

Islam sesungguhnya agama yang menolak segala bentuk kekerasan terhadap perempuan. Hal ini telah banyak diungkap dalam Al-Quran maupun Sunnah Nabi SAW. Dalam Islam, laki-laki dan perempuan memiliki kesamaan penuh dalam beribadah dan ketakwaan. Al-Qur’an menyebut bahwa siapa pun yang berbuat baik, laki-laki atau wanita, Tuhan akan memberikan pahala yang setimpal (QS. 3:195 dan 16:97).

Nabi Muhammmad sendiri pernah menyatakan ”Sebaik-baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya (termasuk kepada istrinya), dan saya adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. At-Tirmidzi). Dengan demikian, kekerasan di dalam rumah tangga sedikit pun tidak ditolerir dalam ajaran agama.

Islam mengajarkan kaum laki-laki dan perempuan agar saling menyayangi dan mengasihi. Itu sebabnya, asumsi yang mencatut Islam sebagai agama tidak ramah perempuan adalah keliru besar. Islam dengan tegas mengutuk praktik-praktik kekerasan terhadap perempuan. Pandangan egalitarisme Islam kaitannya relasi laki-laki dan perempuan telah ditetapkan dalam teks-teks suci Islam.

Sayangnya, kita pun tak bisa menutup mata, ada sejumlah teks-teks agama yang sengaja ditafsir oleh sebagian orang untuk merendahkan dan memosisikan perempuan pada subordinat kaum laki-laki. Tafsir semacam inilah yang perlu diluruskan terlebih dahulu sehingga tidak memberi peluang bagi tindak kekerasan terhadap perempuan atas nama pembenaran teks-teks agama. (*)

  • Editor : udi
  • Uploader : angga

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Milo Ingin Duetkan Alfarizi-Alfin Lagi

Habis Lebaran

Jual Miras Saat Lebaran, Begini Nasibnya

Pembobol Pabrik Beton Ditangkap, Dua Temannya Kabur

Terapkan Sapta Pesona Untuk Menyambut Libur Lebaran

Kasus Oppo Belum Beres

Lindungi Saksi Gugatan Pemilu!

VIDEO