Dr Chandra A Putra, Peraih 37 Sertifikat Hak Kekayaan Intelektual

  • 14-08-2018 / 11:18 WIB
  • Kategori:Bimbingan
Dr Chandra A Putra, Peraih 37 Sertifikat Hak Kekayaan Intelektual MEMBANGGAKAN: Dr Chandra A Putra (berdiri) bersama pimpinan MURI, Jaya Suprana, belum lama ini. (DOK PRIBADI FOR KALTENG POS/JPG)

PALANGKARAYA-Memang selama ini setiap karya yang dihasilkan selalu didaftarkan pria kelahiran Banjarmasin 22 Oktober 1986 itu ke HKI di Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham). Setiap mendaftarkan tidak pernah diniatkan Chandra untuk memperoleh MURI. Semua itu hanya sekadar untuk mematenkan hasil karya.

Seiring dengan perjalanan waktu, selama dua tahun ini ternyata dia dinobatkan sebagai dosen yang memiliki rekor HKI terbanyak se-Indonesia. Mengantongi sebanyak 37 sertifikat HKI, mengalahkan dosen dari beberapa universitas ternama di negeri ini.

Pada 2016, Chandra pertama kali mengajukan sertifikat HKI untuk hasil karyanya, yang merupakan produk animasi pembelajaran. Contohnya, animasi media pembelajaran tata surya, pengenalan hewan, ragam budaya Kalimantan, sistem gerak tubuh pada manusia, dan lainnya.

Bagi sebagian orang, mungkin pengajuan HKI masih dirasa sulit. Tapi, sebenarnya tinggal kemauan. Lulusan Program Doktor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu mengungkapkan pengalamannya.

Menurut dia, siapa pun dapat mengajukan sertifikat ke Kantor Wilayah Kemenkuham Kalteng atau langsung mengajukan secara individu di website Direktorat Jenderal HKI Pusat. "Saat pendaftaran tersebut hasil karya kita akan diverifikasi. Baik dari data yang ada maupun dari sistem. Penolakan juga dapat terjadi, jika ada orang yang mengklaim bahwa hasil karya atau produk yang diajukan telah ada sebelumnya,” ungkap alumnus SMAN 1 Palangka Raya itu.

Saat seluruh verifikasi telah dilakukan, maka pemohon hanya menunggu konfirmasi melalui email, bahwa permohonan disetujui dan dapat dicetak sertifikatnya. Waktu penyelesaian pengajuan sertifikat HKI tergantung pada hasil verifikasi sitem.

Namun, Kantor Wilayah Kemenkumham Kalteng sudah bekerja dengan sangat baik dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat, sehingga proses pengajuan HKI berjalan dengan baik dan lancar.

Kiat untuk mendapatkan HKI tidak lain adalah niat dan kerja keras. Namun hal tersebut tidaklah cukup, tanpa adanya pemikiran kreatif dan inovatif. Saat ini, banyak orang yang tidak mau keluar dari zona nyaman mereka sendiri, sehingga tidak ada perubahan yang akan terjadi dari setiap individu.

Chandra berpesan khusus untuk dosen, jangan melakukan hal yang monoton. Tri Dharma Perguruan Tinggi itu sangat penting dan wajib dilakukan. Kreasi dan inovasi juga dibutuhkan untuk perkembangan pendidikan di Indonesia, khususnya di Bumi Tambun Bungai, Kalteng.

Tentu banyak yang bertanya, apa kegunaan dari HKI itu sendiri. Menurut Ketua Prodi Pendidikan Teknologi Informasi (PTI) UM Palangkaraya ini, HKI sangat bermanfaat. Tidak hanya untuk individu, namun juga untuk kemajuan suatu hasil karya anak bangsa.

"Karena HKI merupakan segala sesuatu yang diciptakan melalui kegiatan intelektual seseorang. Sehingga menjadi hak milik yang berasal dari kemampuan intelektual, yang diekspresikan dalam bentuk ciptaan hasil kreativitas melalui berbagai bidang, seperti ilmu pengetahuan, teknologi, seni, sastra, desain, dan sebagainya,” tukasnya.

Chandra yang beberapa kali menjadi pembicara seminar di perguruan tinggi Malaysia dan beberapa dalam negeri ini mengungkapkan, walaupun banyak mendapat tawaran untuk menjadi dosen dari beberapa PTN maupun PTS, namun dia tetap ingin mengabdi di Kalteng. "Saya tetap akan memberikan segala kemampuan, kreasi, serta inovasi saya untuk Universitas Muhammadiyah Palangkaraya,” katanya. Dia menepis adanya anggapan selama ini bahwa dosen kalau sudah terkenal akan pindah ke perguruan tinggi yang lebih besar lagi.

Sebagaimana dosen pada umumnya, dia bercita-cita untuk menjadi profesor atau guru besar. "Biarkan saya berpacu dengan waktu untuk meraihnya. Semua orang bisa menjadi master. Semua orang bisa menjadi doktor. Dan semua orang bisa menjadi profesor,” selorohnya.

Kendati demikian, menurutnya gelar akademik tertinggi, alangkah baiknya juga bersinergi dengan kebermanfaatan bagi orang lain atau masyarakat. Dia juga sangat berterima kasih kepada pihak Koordinator Kopertis XI Kalimantan, dan UM Palangkaraya yang telah mendukungnya selama ini, baik Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), maupun seluruh civitas akademika Universitas Muhammadiyah Palangkaraya.(*/jpg/JPC/bua)

  • Editor : bua
  • Uploader : buari

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI