Minimalisir Pembelajaran Ceramah, Siswa Aktif Diskusi

  • 16-05-2018 / 12:00 WIB
  • Kategori:Bimbingan
Minimalisir Pembelajaran Ceramah, Siswa Aktif  Diskusi BANGGA : Guru Pendidikan Agama Islam SMAN 1 Kepanjen, Dr Ajang Kusmana bangga dengan medali yang diraih dalam OGN 2018. (AJANG KUSMANA FOR MALANG POST)

BAGI Guru Pendidikan Agama Islam SMAN 1 Kepanjen, Dr Ajang Kusmana, metode pembelajaran konvesional berupa ceramah, sudah jarang dilakukan. Saat pembelajaran, dirinya mendorong siswanya untuk aktif diskusi. Inilah yang membuatnya meraih medali emas dalam Olimpiade Guru Nasional (OGN) 2018.

Senyum ramah terpancar dari Ajang Kusmana ditemui Malang Post di kediamannya Jalan Anggrek 133 Kelurahan Cempokmulyo, Kepanjen, kemarin. Mengenakan sarung dan kopiah, ia usai melakukan salat Ashar di musala dekat rumahnya.

Usai ibadah, kemudian dia bercerita kesuksesan dalam OGN. Mulanya, dia menjelaskan bila OGN 2018 diadakan dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, oleh Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan.

Dari sejumlah 2.500 peserta, disaring menjadi 1.290 peserta untuk diajukan sebagai finalis yang jumlahnya 159 orang. “Finalnya diambil 8 orang medali emas, 8 orang medali perak, dan 8 orang medali perunggu,” tuturnya.

“Saya berhasil meraih salah satu medali emas itu. Saya sangat kaget ketika mendengar nama saya disebut meraih medali emas,” terang dia. OGN tersebut diadakan di Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Ketika mendengar nama saya disebut untuk meraih medali emas, saya langsung sujud syukur,” ujar Ajang. Dia semakin bangga, ketika penyematan medali berdampingan dengan Gubernur NTB, Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, M.A

“Pengalungan medali itu dilakukan oleh pak Muhajir Effendi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,” ungkapnya. Namun ia mengaku, serangkaian proses yang cukup ketat, dilalui untuk bisa memenangkan lomba tersebut.

 “Metode pembelajaran yang saya terapkan meminimalisir metode ceramah. Saya lebih mendorong anak-anak lebih aktif dan diskusi,” tutur peraih gelar doktor di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini.

Dengan metode diskusi tersebut, membuat kegiatan belajar mengajar lebih dinamis, berwarna dan mengasyikan. “Tentunya materi pelajaran lebih mudah diserap oleh para peserta didik. Mereka saling musyawarah dan terjadi tanya jawab,” terangnya.

Dia mengatakan, inilah metode pembelajaran pada era milenial seperti sekarang. Karena dibutuhkan sesuatu yang menarik dan lebih mudah diserap oleh peserta didik. “Anak-anak sangat antusias ketika menggunakan metode pelajaran yang dinamis seperti ini,” tutupnya. (big/mar)

  • Editor : bua
  • Uploader : buari

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI