trial_mode: on
Home > > Opini

Memperkuat Ketahanan Rupiah

  • 20-05-2018 / 16:30 WIB
  • Kategori:Opini
Memperkuat Ketahanan Rupiah

Akhir- akhir ini nilai rupiah kian terpuruk di tengah geliat perekonomian dunia. Nilai kursnya terus anjlok di hadapan mata uang asing, khususnya dolar AS. Nilainya terus terjun bebas hingga menembus angka di atas Rp 14.700 per dolar AS. Bahkan, bisa kita bilang kondisi pasar finansial global terus bergejolak belakangan ini.

Jatuhnya nilai rupiah yang tak dapat dikendalikan bukan perkara sepele. Harga diri rupiah juga cerminan harga diri bangsa di mata asing. Sebagai bangsa yang masih bergantung pada produk impor, seperti pangan, buah-buahan, bahan bakar, mesin, sepeda motor, mobil, hingga alat berat pasti menggunakan dolar sebagai alat pembayaran. Jika nilai dolar terus menekan rupiah, harga barang bakal naik bahkan inflasi pun akan terjadi.

 

Melemahnya rupiah

Kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS), inipun memantik spekulasi kuat akan rentetan kenaikan fed fund rate (FFR) tiga kali lagi sepanjang tahun ini.  Tendensi ini disikapi para pelaku pasar melepas aset berdenominasi nondolar AS. Akibatnya, hampir semua mata uang dunia mengalami tekanan, termasuk rupiah. Sejak awal April (month to date), nilai tukar rupiah melemah 0,91 persen, yang lebih kecil daripada pelemahan mata uang beberapa negara emerging market lain.

Situasi yang demikian, seperti yang sempat terjadi pada 2015. Rupanya, komparasi dengan spektrum waktu yang lebih panjang agaknya tidak mengubah simpulan. Sejak awal 2018 (year to date) rupiah melemah 2,35 persen hingga nyaris Rp13.999 per dolar AS, tetapi lebih rendah daripada pelemahan mata uang lain, seperti real Brasil 3,06 persen, rupee India 3,92 persen, peso Filipina 4,46 persen, dan lira Turki 7,17 persen.

Melihat situasi tren rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS itulah, bisa kita katakan kalau trending topic tersebut paling hangat dibicarakan belakangan ini. Faktor eksternal yang dimotori oleh penaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) menjadi pemicu melemahnya rupiah. Tidak banyak yang bisa dilakukan dari sisi kebijakan dalam negeri untuk meredam laju turunnya nilai rupiah terhadap dolar AS. Khususnya, dalam jangka pendek. Bahkan, dangkalnya lagi depresiasi rupiah relatif menimbulkan pertanyaan seberapa kuat upaya stabilisasi BI dalam situasi demikian?

            Realitas tersebut bisa kita lihat dari neraca perdagangan yang berbalik surplus di Maret lalu menerbitkan secercah harapan. Surplus bisa kembali dicapai pada perdagangan April dan seterusnya. Melemahnya nilai rupiah seharusnya menjadi pendorong nilai ekspor yang lebih besar karena harga komoditas Indonesia di pasar dunia kini lebih murah.

Neraca perdagangan yang berbalik surplus di Maret lalu menerbitkan secercah harapan. Surplus bisa kembali dicapai pada perdagangan April dan seterusnya. Melemahnya nilai rupiah seharusnya menjadi pendorong nilai ekspor yang lebih besar karena harga komoditas Indonesia di pasar dunia kini lebih murah.

Di sisi lain, kenaikan harga-harga barang maupun jasa membayangi dengan makin mahalnya barang impor. Apalagi di saat permintaan domestik yang naik selama periode bulan puasa dan lebaran. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk memengaruhi harga beli dari negara asal. Namun, pemerintah dapat meredam pembengkakan harga yang diterima konsumen dengan mengefisienkan saluran distribusi.

 

Solusi penguatan rupiah

Setelah melihatnya situasi melemahnya rupiah terhadap dolar kali ini, bagaimana perlu kita ingat bersama bahwa hasil-hasil positif di dalam negeri akan sangat berpengaruh dalam memperkuat ketahanan rupiah. Itu juga mesti diiringi dengan manajemen situasi di dalam negeri untuk mencegah kepanikan yang rawan memperburuk kondisi. Lebih gamblangnya lagi, berikut ini hal-hal sekiranya yang bisa dilakukan oleh pemerintah, terkait bagaimana caranya menguatkan nilai rupiah kita.

Pertama, kebijakan ekonomi dalam jangka panjang mau tidak mau harus fokus pada penguatan ekspor yang bukan mengandalkan pada nilai rupiah yang lemah. Solusinya tetap klasik, seperti penguatan hilirisasi untuk ekspor dan subtitusi barang impor, serta ekspansi ke pasar yang belum banyak dirambah.

Kedua, merawat optimisme karena hanya pikiran positif yang bisa melahirkan hasil yang positif. Pesimisme dan paranoia hanya milik para pecundang. Jujur sebagai penulis dibalik kejadian terpuruknya rupiah saat ini bisa saya bilang kalau fundamental perekonomian kita cukup kuat. Terbukti, rupiah yang berkali-kali mendapat gempuran selalu mampu bangkit. Tekanan yang kuat justru dikobarkan oleh kepanikan yang tidak perlu.

Ketiga, menjaga pergerakan inflasi terjaga. Melalui terjaganya inflasi tersebut suku bunga acuan akan stabil sehingga nilai tukar juga akan ‘tenang’. Itu artinya, dengan alur ini, laju inflasi seharusnya sebanding dengan depresiasi.

            Keempat, belajar sekaligus menengok apa yang sempat terjadi pada tahun 2015. satu hal yang mesti dijaga adalah sentimen positif terhadap kondisi internal Indonesia. Itu tidak mudah, apalagi dengan capaian pertumbuhan ekonomi di triwulan 1 2018 yang masih moderat di sekitar 5 persen.  Begitu pula di tahun 2015 BI pun terus menjaga stabilitas dan mengintervensi pasar uang.

Setelah semua itu terpenuhi, bisa dikatakan bahwa secara normative pergerakan inflasi terjaga, suku bunga acuan akan stabil sehingga nilai tukar juga akan ‘tenang’. Dengan alur ini, laju inflasi seharusnya sebanding dengan depresiasi. Oleh karena itu, paradigma ini memberikan resep nilai tukar akan stabil jika laju inflasi di setiap negara terkendali.

Solusi yang lebih kompromistis ialah sistem pengendalian devisa, khususnya aliran hot money yang dominan di pasar uang. Regulasi parsial perlu dikenakan pada capital flow agar dana portofolio asing tidak keluar/masuk begitu saja tanpa memberikan kontribusi yang signifikan bagi stabilitas nilai tukar rupiah.

Selain itu, perlu kita ingat bersama bahwa menaikkan nilai rupiah Indonesia di mata dunia, bukan sekadar kita perdebatkan dan gelisahkan tapi bagaimana kita bersama-sama menguatkan rupiah melalui roda ekonomi. Semoga Pemerintah Jokowi mampu menaikkan nilai rupiah. (*)

 

  • Editor : Husnun
  • Uploader : slatem

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI