Inspiratif, Oki Berbagi Pengalaman dan Tip Berburu Beasiswa

  • 02-12-2018 / 00:40 WIB
  • Kategori:Malang
Inspiratif, Oki Berbagi Pengalaman dan Tip Berburu Beasiswa SINERGI: Wali Kota Malang Sutiaji (1), Ketua TP PKK Widayati (2), Plt Pemimpin Bank Indonesia Malang Jaka Setiawan (3) dan narasumber Road to ISEF 2018.

MALANG-Biasanya seseorang akan membawa pulang oleh-oleh atau ratusan foto kenangan usai  berkunjung ke luar negeri. Namun berbeda dengan Oki Setiana Dewi. Pemeran utama wanita dalam film “Ketika Cinta Bertasbih” ini mengabadikan pengalamannya dalam buku “Sebentang Kearifan dari Barat”, yang dibedah tuntas dalam acara Road to ISEF 2018 yang digelar Bank Indonesia di Malang Town Square, kemarin (1/12/18).

Bertambah menarik, ibu tiga anak ini keliling tiga negara, yaitu Australia, Jerman dan Spanyol secara gratis, hasil dari berburu beasiswa. Ke Australia melalui program Muslim Exchange Program dan ke Jerman lewat Study Trip Germany, sementara ke Spanyol merupakan undangan atas partisipasi volunteer dalam program “a Tile for Seville”.

“Kenapa seorang Oki Setiana Dewi harus berburu beasiswa? Apalagi bagi artis sebenarnya kan bisa saja pergi luar negeri sendiri,” kata Pemimpin Redaksi Dewi Yuhana yang menjadi moderator bedah buku.

“Iya, banyak yang tanya ke saya. Kenapa saya keluar negeri pakai beasiswa. Saya punya alasan sendiri,” tutur Oki.

Perempuan berusia 29 tahun ini menerangkan, bila pergi sendiri, maka dia hanya akan bisa mengunjungi tempat-tempat wisata saja. Melalui beasiswa, akan lebih banyak manfaat dan pengalaman yang diperoleh. Sebab panitia dipastikan sudah mendesain program sedemikian rupa. Harus mengunjungi tempat apa dan bertemu dengan siapa.

“Kami sebagai peserta pasti diajak ke tempat-tempat yang memang layak untuk dipelajari, memiliki sejarah, dan bisa disiarkan lebih luas ke dunia. Makanya saya memutuskan untuk berburu beasiswa,” jawabnya.

Kepada audiens, Oki menegaskan, dia juga melewati semua tahapan yang harus dilalui  para scholarship hunter (pemburu beasiswa). Mulai dari menyiapkan curriculum vitae, tes TOEFL, motivation letter dan juga rekomendasi. “Saya melalui semua tahapan, tidak ada special treatment yang saya terima. Saya pun harus meyakinkan para penguji bahwa saya memang orang yang layak mereka pilih untuk program tersebut,” tambah Oki yang mengikuti program tersebut ketika sedang hamil anak ketiganya, Ibrahim. 

Wanita kelahiran Batam ini melanjutkan, perjalanannya ke tiga negara yang notabene merupakan negara dengan minoritas muslim itu memberinya banyak inspirasi. Ia merasa apa yang ia lihat, ilmu yang didapat serta pengalaman berinteraksi dengan muslim di negara luar itu harus dibagikannya pada masyarakat di negaranya sendiri.  Salah satunya melalui buku.

Ia juga memotivasi audiens yang didominasi penonton perempuan itu untuk bersemangat mencari beasiswa.  “Ayo, siapa di sini yang mau keliling dunia gratis?,” tanya Oki yang langsung dijawab teriakan “Saya” oleh audiens. “Salah satu caranya ya cari beasiswa, jangan malas,” tegasnya. 

 Oki juga menceritakan beberapa hal yang dipelajari di negara-negara tersebut, salah satunya adalah sifat-sifat keislaman sangat tergambar di sudut-sudut kota. Contohnya saja Jerman, yang lingkungannya sangat bersih dan segala pekerjaan atau kegiatan dilakukan tepat waktu.  Hal-hal kecil ini, lanjutnya, mencerminkan nilai-nilai Islam yang ia dapatkan di negara non muslim. Oki menegaskan inilah yang  dia bagikan pada pembaca bukunya.

“Jadi belajar Islam itu bisa kok di negara barat. Keluar dari zona nyaman seperti Indonesia yang memang mayoritas muslim,” paparnya.

Saat berkunjung ke kampus di Jerman, istri dari Ory Vitrio Abdullah itu mengetahui bahwa mereka menyediakan tempat menyusui hingga mengganti popok bayi. “Ini artinya apa? Negara tidak menghalangi siapapun untuk memiliki pendidikan. Mau kalian punya bayi, ngurus anak berapapun, kalau mau belajar akan difasilitasi. Ini sangat penting. Belajarlah setinggi-tingginya agar anak kita sendiri bisa mendidik anak kita dengan baik,” tegasnya.

Dewi Yuhana lalu menanyakan tip dari Oki bagi muda mudi Malang yang ingin mendapatkan beasiswa. Sebelum memilih untuk mendaftar beasiswa pada program tertentu, kata Oki, seseorang harus paham dan mengerti passion atau ketertarikan dirinya sendiri. “Sebagai scholarship hunter,  saya cari beasiswa yang kriterianya memang masuk dengan kemampuan saya sendiri. Waktu itu saya lihat program beasiswa untuk mempelajari perkembangan agama Islam. Saya lihat syaratnya, sepertinya saya bisa memenuhinya, maka akhirnya saya apply,” terangnya.

Tidak hanya itu, Oki juga menyampaikan pentingnya membuat “Motivation Letter” sebaik mungkin. Pasalnya semua program beasiswa akan meminta pendaftarnya untuk menuliskan apa yang menjadi motivasinya untuk mengikuti program tersebut.

Oki menyebut itulah media bagaimana dirinya “menjual diri” sebaik mungkin agar terpilih. Akan lebih baik jika Motivation Letter dibubuhkan banyak rencana ke depan alias output yang dapat dilakukan jika terpilih.

“Contohnya, saya tulis jika lolos ikut program ini, saya akan siarkan apa yang saya dapat dari program dalam bentuk tulisan atau buku. Lalu akan saya selipkan dalam materi-materi dakwah saya,” ucap Kakak kandung Ria Ricis ini.

Selain bersemangat mendengarkan paparan Oki, pengunjung  juga berburu buku Sebentang Kearifan dari Barat yang dijual Rp 85 ribu itu. Maklum saja, mereka yang membeli buku, bisa berfoto bersama Oki. Sementara itu, kegiatan Road to ISEF 2018 masih akan berlangsung hingga hari ini. (ica/han)

Editor : Dewi Yuhana
Uploader : irawan
Penulis :
Fotografer :

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU