ISLAM ITU TOLERAN

  • 14-12-2018 / 17:02 WIB
ISLAM ITU TOLERAN

Oleh Muhammad Subkhi, S.Pd, M.PdI,

Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) Kota Malang.

 

Ketika Islam dihadapkan pada banyaknya kritikan, bahwa Islam adalah agama intoleran,  diskriminatif, radikal, teroris dan ekstrem. Islam dituduh tidak memberikan ruang kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, sebaliknya Islam syarat dengan kekerasan atas nama agama sehingga jauh dari perdamaian, kasih sayang dan persatuan. Padahal dalam konteks toleransi antar umat beragama, Islam memiliki konsep yang jelas ” laa ikrohaa fiddin” (tidak ada paksaan dalam agama),banyak ayat lain yang tersebar diberbagai surat dalam Al qur-an maupun hadits tentang praktek  toleransi dalam sejarah Islam.

Fakta-fakta historis itu menunjukkan bahwa masalah toleransi dalam Islam bukanlah konsep asing, toleransi adalah bagian integral dari Islam itu sendiri yang detail-detailnya kemudian dirumuskan oleh para ulama dalam karya karya tafsir mereka. Kemudian rumusan rumusan ini desempurnakan dan diperbaharui oleh para ulama dengan pengayaan baru, sehingga akhirnya menjadi praktek kesejarahan dalam masyarakat Islam.

Islam adalah agama yang sangat toleran dan menghargai pendapat sesama umat Islam (intern umat Islam), yang didasari atas ukhuwah Islamiyah. Hal ini sesuai dengan apa yang diisyaratkan al-Qur’an dalam surat al-Hujurat/49: 11.

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang memperolok-olokkan).”

Dalam Islam tidak dibenarkan memaksakan kebenaran kepada umat agama lain (QS. al-Baqarah: 256). Ajaran Islam melarang umatnya mempengaruhi siapapun untuk masuk Islam, apalagi dalam bentuk tekanan-tekanan sosial dan politik. Umar bin Khattab sering mempengaruhi budaknya, Astiq non Islam untuk menerima Islam. Akan tetapi ketika budaknya menolak, Umar hanya dapat berucap: “laa ikroha fiddin” (tidak ada paksaan dalam agama Islam).

Islam juga melarang bahasa yang kasar terhadap umat agama lain, sebagaimana tertuang dalam surat al-An’am/6: 108:

Artinya: “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.”

Ajaran Islam terbagi kapada dua kelompok (suratAli Imran/3: 7) :

1. Ajaran Islam yang bersifat absolut (al-muhkamât), universal, kekal, tidak berubah dan tidak dapat diubah sebagaimana yang terdapat dalam al-Qur’an dengan teks Arabnya.

2. Ajaran Islam yang bersifat relatif (al-mutasyâbihât), bisa berubah, bisa diubah, bahkan kadang-kadang harus diubah karena tidak cocok lagi dengan zaman = hasil ijtihad para mujtahid dan kewenangan manusia dalam menjabarkannya.

Dalam ajaran Islam terjadi perbedaan pendapat. Dengan kata lain, berbeda satu otak umat Islam dengan otak umat Islam yang lain dalam memahami satu ayat, akan tetapi bukan berbeda ayat. Dalam konteks ini siapa yang menyalahkan yang salah. Atas dasar itulah intern umat Islam sangat diharapkan toleransi dalam mengamalkan ajaran Islam.

Bukti Islam itu Toleran

Salah satu karakteristik dan keunggulan Islam ialah, bahwa Islam merupakan agama yang dengan tegas memerintahkan pemeluknya; umat Islam hadir ke muka bumi menjadi rahmat (penebar kedamaian) bagi seluruh umat manusia, baik Muslim maupun non-Muslim. Bahkan rahmat bagi semesta alam, sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan tiadalah kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya`a: ayat 21).

Dengan demikian jelaslah bahwa Islam jauh dari sikap radikalisme, ekstrimisme dan tindakan yang melampaui batas. Islam sangat menjunjung tinggi keadilan bagi siapa pun, serta mengajarkan sikap saling menghormati dan saling bekerjasama di antara kelompok-kelompok yang berbeda, baik secara etnis, budaya, bahasa, politik maupun agama.

Bila kita menyelami hadits-hadist Nabi SAW, maka kita akan banyak mendapati bukti-bukti toleransi Islam terhadap umat non Muslim, yang di antaranya:

Tidak boleh membunuh orang non Muslim selama tidak memerangi kaum Muslimin.

Dari Abdullah bim Amr ra, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa membunuh seorang kafir mu`ahad (yaitu kafir dzimmi yang terikat perjanjian dengan pemerintah Islam), maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dariperjalanan empat puluh tahun.” (HR. Bukhari).

 

Berbuat baik kepada tetangga non Muslim.

Hadits-hadits Nabi SAW yang memerintahkan untuk berbuat baik kepada tetangga adalah bersifat umum dan universal, tidak terbatas berbuat baik hanya kepada tetangga Muslim saja.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya memuliakan tetangganya.” (HR. Bukhari).

Tidak boleh berbuat dzalim kepada non Muslim dzimmi.

Rasulullah SAW bersabda: “Ingatlah barangsiapa berbuat dzalim terhadap mu`ahid (yaitu kafir dzimmi yang terikat perjanjian dengan kaum Muslimin) atau mengurangi haknya atau membebaninya di luar kemampuannya atau mengambil sesuatu darinya yang tidak disukainya, maka akulah musuhnya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud).

Adil dalam menerapkan hukum dan menjalankan peradilan terhadap umat agama lain.

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah: ayat 5)

ketika Umar bin Khattab ra menaklukkan Yarussalem Palestina. Beliau menjamin penduduknya untuk bebas memeluk agama dan membawa salib mereka. Beliau tidak memaksa mereka untuk masuk Islam dan tidak menghalangi mereka untuk beribadah sesuai agama mereka, selama mereka berkomitmen untuk membayar pajak kepada pemerintah Islam.

Namun perlu digarisbawahi di sini, bahwa toleransi tidak boleh dimaknai dengan peleburan keyakinan atau tukar menukar keyakinan dan ritual keagamaan antar umat beragama, seperti yang orang –orang Quraisy minta kepada Nabi untuk bertukar ritual ibadah; mereka siap menyembah Rab (Tuhan) Muhammad, tapi Nabi SAW juga harus menyembah tuhan mereka. Hal inilah yang menjadi latar belakang diturunkannya surah Al-Kafirun yang menegaskan tidak adanya toleransi dalam hal keyakinan seperti ini, karena lakum diinukum waliadiin,

            Waallahu a’lamu bishshowab.

  • Editor : udi
  • Uploader : slatem

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Kerangka Manusia Ditemukan di Hutan Gentaru

Siang-Siang Cari Rumput Malah Ketemu Kerangka Manusia

FISIP UMM Semakin Mantap Go International

Ekraf Jadi Sasaran RKPD 2020

View Terbaik Ada di Tol Mapan


GRATIS !!!

Untuk Berlangganan Berita Malang Post Online,
Ketik Nama dan Email di Form Berikut Ini.



VIDEO

-->