Lepas Predikat Cadangan Abadi, Datang ke Arema Berkat Claudio

  • 17-12-2018 / 00:37 WIB
  • Kategori:Arema
Lepas Predikat Cadangan Abadi, Datang ke Arema Berkat Claudio Utam Rusdiana

Utam Rusdiana Jadi Kiper Utama Singo Edan

Utam Rusdiana mencapai titik tertinggi dalam karier sepak bolanya. Ia tiga tahun setia sebagai kiper ketiga, bahkan keempat di Arema FC. Tahun 2018 ini, jabatan penjaga gawang utama dia sandang. Lantas, seperti apa sebenarnya sosok Utam, yang awalnya dianggap memiliki kelemahan dalam hal komunikasi tersebut?

Awal promosi ke tim senior, medio 2014 lalu, tidak banyak yang mengenali siapa sosok Utam Rusdiana. Saat promosi dari Arema U-21, tidak sedikit yang menganggap, pemain ini adalah adik kandung dari Kurnia Meiga Hermansyah dan almarhum Achmad Kurniawan. Padahal,sama sekali Utam tidak memiliki hubungan darah dengan dua seniornya tersebut. Hanya kebetulan saja, tekstur wajah dari Utam, hampir sama dengan seniornya yang berasal dari Jakarta tersebut.

Sebaliknya, Utam ternyata adalah jebolan klub internal Persebaya, yang ditemukan oleh legenda Singo Edan, Claudio de Jesus, salah satu legenda Arema. Saat masih di klub Suryanaga, bakat Utam diketahui oleh Claudio, yang notabene seorang bek. Utam pun diboyong ke Arema U-21.

“Dulu, Claudio itu melatih SSB Gomes di Surabaya. Nah, itu masih ada hubungan dengan bos di klub saya. Itu awalnya tahu saya. Pas dia melatih Arema U-21, coach Claudio itu mencari kiper dan saya ditawarkan oleh bos klub di Surabaya. Waktu itu masih tahun 2013,” papar Utam, berkisah mengenai cerita awal dirinya ke Arema.

Pemain asli Sidoarjo itu pun pindah ke Malang, ketika masih berusia 18 tahun. Jadi, dirinya meski dari Arema U-21, bukanlah jebolan Akademi Arema. Dari sanalah, perjalanan dia bersama Arema dimulai.

Kemudian, empat tahun dia harus setia menjadi kiper cadangan. Bukanlah waktu yang singkat. Bahkan, tidak sedikit yang mencibir atau meragukan semangat dari Utam. “Ya dengarlah omongan, kok betah jadi cadangan terus. Apalagi saya tinggal di mess tersebut. Banyak banget, termasuk pertanyaan apa tidak ingin pindah klub,” ungkapnya.

Saat mendengar hal tersebut, motivasi muncul dari dalam dirinya. Ia tetap kukuh bertahan di Arema dan terus belajar dari para seniornya. Selain Meiga dan almarhum AK, dirinya belajar dari I Made Wardhana (Kadek). Utam pun jujur mengakui, ada influence tiga seniornya itu.

“Saat saya masuk, pelatihnya Pak Alan (Alan Haviludin). Saya tentu harus berterima kasih, dapat kesempatan ke tim senior,” ungkapnya.

Utam belajar teknik bermain bagus dari seorang Kurnia Meiga. Sementara, untuk mental, ia mengakui almarhum AK adalah sosok bermental baja. Sedangkan kehidupan di luar lapangan, ada sosok Kadek.

“Saya merasa beruntung. Ilmu saya dapat dari pelatih. Tambahan lainnya, dari senior. Wajar kan saya kadang tidak terlalu ambil pusing omongan orang, banyak yang memotivasi saya,” beber dia kepada Malang Post.

Saat menjadi cadangan tiga seniornya itu, Utam sejatinya sadar harus mengambil resiko besar. Yakni harus menerobos kehebatan ketiganya. “Kalau dibilang bosan, sebenarnya bosan juga jadi cadangan. Hahaha,” tuturnya, mengingat bagaimana dirinya seolah menjadi cadangan abadi di empat musim kompetisi.

Keyakinan pemain kelahiran 6 Desember 1995 itu saat masih menjadi cadangan adalah, dirinya tidak mau keluar dari Arema, sebelum mendapatkan kepercayaan dari tim pelatih. Secara tidak langsung, itulah motivasi dari dirinya, untuk membuktikan bila dia layak di Arema.

“Tetapi bukan berarti sekarang saya mau keluar. Saya masih sangat betah di Arema dan banyak hal belum dicapai di tempat ini,” yakin dia.

Utam pun mendapatkan minute play terbanyak, dari total lima kiper yang sempat didaftarkan Arema FC di musim ini. Ia mengungguli Joko Ribowo yang akhirnya pindah ke PSIS Semarang, Kurniawan Kartika Ajie yang sempat berstatus kiper Timnas U-23 dan Srdjan Ostojic kiper dari Serbia.

“Tentu ini adalah musim terbaik selama saya di Arema. Alhamdulillah sudah mendapatkan kepercayaan lebih dari pelatih,” tambah sulung dari dua bersaudara tersebut.

Utam mengatakan, tidak puas dengan capaian saat ini. Setelah memutuskan memperpanjang kontrak sampai 2020, dirinya ingin menjaga status kiper utama. Ia tidak takut dengan rencana tim mendatangkan kiper baru.

Saat berada di bawah mistar, motivasinya adalah menjaga posisinya tidak tergusur. Dari sana, Utam meningkatkan banyak hal yang menjadi kekurangannya. Seperti masalah komunikasi. Dia yang kerap dianggap sungkan dengan para pemain yang lebih senior, kini berani berteriak dan marah-marah bila para pemain tidak dalam posisi yang tepat.

“Pertama saya harus mengamankan gawang saya. Selanjutnya, saya berusaha mengamankan posisi. Persaingan boleh terjadi, siapa yang mampu konsisten, pasti dia pilihan utama,” yakin Utam.

Utam juga sekarang lebih rajin menambah porsi latihan seperti ke pusat kebugaran. Padahal, biasanya kerap disebut sebagai penjaga mess. Ia sering bersantai di mess, saat beberapa pemain memanfaatkan waktu untuk menambah porsi latihan.

“Hahaha. Sebenarnya dari dulu ya ada porsi latihan tambahan. Mungkin kebetulan saja ketemu pas saya di mess,” bela Utam.

Sementara itu, Utam mengakui, kala performanya meningkat dan jadi pilihan utama, Claudio Jesus juga terus memotivasinya. Saat laga Arema melawan Perseru di musim ini, dia bertemu. Semangat dan motivasi, membuat Utam semakin percaya diri.

“Dia itu jujur. Kalau saya main jelek, ya bilang jelek. Perbaiki penampilan. Kalau bagus, dia beri selamat dan semangat. Makanya, saya selalu ingat kalau Claudio itu salah satu sosok penting dalam karier saya,” tandasnya.(stenly rehardson/ary)

Editor : Ary
Uploader : abdi
Penulis :
Fotografer :

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU