Takjub, Tak Ada Mahasiswa yang Telat Masuk Kuliah

  • 28-05-2018 / 00:03 WIB
  • Kategori:Malang
Takjub, Tak Ada Mahasiswa yang Telat Masuk Kuliah Dr Zakiyah Arifa, di Rektorat Ningxia International Language College, China.

Disiplin bisa menjadi “nama tengah” sebagian besar warga China. Saat masih banyak mahasiswa Indonesia yang telat masuk kelas, mahasiswa di negara tirai bambu ini sudah berada di kelas sebelum pelajaran dimulai. Suasana pembelajaran ini yang membuat takjub Ketua Chinese Language and Culture Center (CLCC) UIN Maliki Malang, Dr. Zakiyah Arifa yang selama sebulan berada di sana.

Bila ada mahasiswa telat, mereka akan men­dapat sanksi beragam, ter­gantung kebija­kan dosen. Maka tak ada mahasiswa yang berani dan nekat terlambat. Sebab para dosen pun be­gitu. Mereka mengajar tepat waktu.

“Misalnya, kuliah dimulai jam 8, lima menit sebelum itu dosen sudah masuk kelas. Otomatis mahasiswa harus be­rada di kelas sebelum dosen datang,” kata Zakiyah yang April hingga per­tengahan Mei berkesempatan be­la­jar Bahasa Mandarin di Ningxia Inter­national Language College di Kota Yinchuan Provinsi Ningxia.

Selama satu bulan, Zakiyah tinggal di asrama kampus tersebut. Mengikuti ritme pembelajaran dan aktivitas di sana, mulai Senin sampai Jumat. Dia baru bisa keluar asrama saat weekend. Ningxia International Language College memang menerapkan sistem mirip pesantren di Indonesia dengan asrama penunjang. Di samping kegiatan akademik, mahasiswa juga aktif dalam aktivitas olahraga.

Selain disiplin, lanjutnya, para mahasiswa juga sangat tekun dalam memahami dan mempraktikkan pelajaran bahasa. Pagi hari mulai dari jam 6, terlihat banyak mahasiswa yang wira-wiri di jalan-jalan asrama sembari memegang buku untuk menghafal kosa kata, sesuai bahasa yang ia pelajari di kampus. Mulai dari kosa kata Bahasa Inggris, Arab, Perancis, Jerman hingga Bahasa Mandarin.

Tidak hanya di pagi hari, para mahasiswa masih meneruskan proses belajar di luar kelas saat malam hari. Mulai pukul 7 sampai 9 malam, mahasiswa memiliki waktu untuk belajar langsung dengan para dosen khu­susnya wali kelas. Sebab dosen pun tinggal di asrama saat weekdays. “Berada di tengah-tengah mereka, saya seakan balik lagi ke pesantren, serasa mondok,” ucap alumnus Gontor Putri ini tertawa.

Disiplin dan tekun belajar membuat ma­hasiswa Ningxia International Language College bisa melafalkan kata dan kalimat Ba­hasa Arab dengan tepat. “Ketekunan mereka nomor satu, meski pelafalan Bahasa Arab dan kosa kata China berbeda, khususnya ma­khorijul huruf pada bahasa Arab kan susah, tapi karena mahasiswa ini tekun belajar, mereka bisa melafalkannya dengan bagus,” tutur perempuan kelahiran Jember itu.

 

Punya Nama China Dan Muslim

 

Selama di Yinchuan, Zakiyah juga melihat dan mengamati kehidupan serta budaya masyarakat setempat yang sebagian besar beragama Islam. Ningxia memang berbeda dengan provinsi lain. Provinsi yang berada di bagian barat laut ini memiliki jumlah penduduk muslim tertinggi, yakni dari suku Hui. Di sana pun ada salah satu masjid tertua di negara ini, yakni Masjid Na Jia Hu yang telah berusia lebih dari 500 tahun.

Sebagai masyarakat muslim, menurut Zakiyah, warga setempat memiliki dua na­ma. Yakni nama China sekaligus dengan ma­rganya dan juga nama muslim yang diberikan oleh orang tua, masjid atau sekolah muslim. Ia lalu memberi contoh, dosen-dosen Bahasa Mandarin di sana Yang Kun yang memiliki nama muslim Zainab, lalu Yang Li Jia dengan nama Sarah. Lalu ada Ma Jia Hui dengan nama Jum’ah dan Ma Qi Wei punya nama lain Abdullah.

“Mereka menggunakan nama itu, dua-duanya. Mau dipanggil nama China atau nama muslimnya, pasti nengok,” ungkap

Dosen penyuka warna ungu ini sangat takjub melihat kebudayaan Islam di Ningxia. Dengan mayoritas penduduk muslim, kaum muslimnya tergolong mudah belajar bahasa Arab dan beribadah di masjid. Turis yang datang ke Yinchuan, ibu kota Ningxia pun mudah mencari makanan halal. Berbeda dengan dua kota besar Shanghai dan Beijing, meski Islam sudah banyak dikenal tapi mencari makanan halal sangat sulit di sana.

Segala bentuk mi, burger, street food, semuanya halal. Termasuk menu favoritnya selama di sana, yaitu tapansi, ayam dan kentang dimasak dengan paprika dengan bumbu merah. Semua pedagang makanan itu menuliskan label halal dalam bahasa China dan Arab, juga tulisan tha’amul muslimin (makanan muslim) yang ditaruh di stand-stand jualan mereka. “Termasuk street food, mereka juga memasang label halal ini, mereka memiliki otoritas mengeluarkan label halal seperti kalau di Indonesia dari MUI,” ungkapnya. 

Sementara itu, sebagai Ketua CLCC UIN Maliki, Zakiyah ingin mengadopsi fokus kebahasaan di Ningxia International Language College untuk salah satunya da­pat diterapkan di kampusnya. Menurutnya dengan prodi yang fokus pada kebahasaan akan membuat mahasiswa belajar lebih maksimal.

Zakiya yang mulai mengembangkan program CLCC UIN Maliki dengan beberapa program khusus seperti kursus bahasa untuk umum, akan terus meningkatkan kerjasama dengan Ningxia International Language College setiap tahun. Baik berupa pertukaran pelajar, maupun pertukaran dosen.

“Di masa mendatang, CLCC UIN Maliki juga akan turut mengembangkan kebahasaaan berupa pengabdian civitas akademika dengan pengajaran bahasa asing bagi seluruh warga UIN Maliki, termasuk keluarga,” beber lulusan Pascasarjana Pendidikan Bahasa Arab UIN Maliki tersebut. (mg3/han)

Editor : Dewi Yuhana
Uploader : irawan
Penulis :
Fotografer :

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU