Tuhan, Manusia, dan Plastik

  • 17-12-2018 / 17:33 WIB
Tuhan, Manusia, dan Plastik

Oleh M. Fakhruddin Al-Razi

Mahasiswa Psikologi UIN Maliki Malang Alumni PP. Nurul Jadid.

 

Keterkaitan antara alam dan manusia ternyata tidak sesederhana seperti yang dipikirkan. Manusia bukan hanya sebagai penghuni alam dan alam bukan sekadar tempat tinggal manusia. Lebih dari itu, ada suatu hubungan yang sangat esensial antara keduanya. Bahwa manusia selain menjadi penghuni alam, mereka juga memiliki peran sebagai pemelihara alam. Dalam bahasa yang lebih tinggi manusia adalah wakil Tuhan di bumi atau yang biasa AlQuran sebut dengan kata khalifah.

Namun yang terjadi bisa dikatakan sebaliknya. Eksploitasi dan penjarahan alam secara besar-besaran dilakukan. Dengan dalih untuk kemajuan peradaban dan perkembangan ilmu pengetahuan, berbagai infrastruktur dibangun di atas tanah. Hutan-hutan dilibas dan gunung-gunung dikeruk, bahkan lautan juga dibor. Di satu sisi, selain memang kamajuan meningkat pesat namun ada hal lain yang luput dari pandangan manusia. Kesenjangan mereka terhadap alam semakin melebar. Maka bukan kenapa kualitas hidup mereka semakin hari semakin berkurang.

Selain dilihat dari kebahagiaan, kualitas hidup manusia juga bisa dilihat dari seberapa dekat mereka dengan sang Pencipta. Sebagai dua dzat antara pencipta dan makhluk maka bukan kenapa pastilah ada sebuah ikatan walau itu tidak kita rasakan langsung. Dapat dilihat dari ketika manusia jarang melakukan interaksi dengan Tuhan maka besar kemungkinan akan muncul kegelisahan walau seringkali tidak disadari. Ini yang biasa disebut dengan krisis spiritual pada diri manusia. Yakni munculnya keterpautan antara Tuhan dan pencipta.

Bukti kesenjangan manusia dengan tuhan salah satunya adalah adanya kesenjangan dengan alam dan lingkungan yang ujung-ujungnya akan berdampak pada hidup manusia itu sendiri. Sebab menjaga lingkungan adalah perintah Tuhan, maka bila lingkungan tidak dijaga otomatis kita melanggar perintah Tuhan. Di sanalah letak keterpautan kita dengan Tuhan setelah kita mengabaikan kondisi alam.

Seringkali, kita secara tidak sadar selalu menjadi bagian dari kerusakan-kerusakan alam meski secara kasat mata kita tidak melakukannya. Tidak usah jauh-jauh, contohnya saja dalam hal penggunaan plastik. Sudah berapa plastik kita gunakan dan kita buang yang kita tahu sendiri bahwa plastik sangatlah sulit diuraikan oleh bakteri-bakteri pengurai. Akan sangat membutuhkan waktu lama plastik bisa hancur seutuhnya. Sementara kita dalam keseharian selalu saja berkubang dengan bahan-bahan plastik.

Sekarang kita lihat, bagaimana plastik-plastik yang kita buang itu bisa merugikan lingkungan, bahkan pula merugikan diri kita. Plastik-plastik yang kita buang semuanya tidak lantas terurai secara utuh oleh bakteri, beberapa bahkan banyak yang “nyasar” ke tempat-tempat yang tidak semestinya. Contohnya saja banyak plastik yang mengapung dan menumpuk di sela-sela aliran sungai. Plastik yang sudah jadi sampah itu selain mencemari kualitas air di sungai., mereka juga membuat aliran air tersumbat. Akibatnya adalah air-air yang sudah terpakai dan tercemar terus saja menumpuk sebab saluran-salurannya sudah dipenuhi plastik-plastik.

Genangan air yang sudah dipenuhi limbah-limbah tadi lambat laun akan mencemari tempat tinggal ikan. Otomatis ikan-ikan akan terganggu kesehatannya karena air-air kotor tadi tidak bisa mengalir gara-gara plastik kita. Dosa baru sudah kita lakukan kepada bangsa ikan karena mencemari tempat tinggal mereka.

Lambat laun ketika air-air itu mulai tercemar dan bisa saja semua sungai yang ada, kondisinya gak beres dan ikan-ikan yang ada di sana juga tidak baik buat dikonsumsi. Parahnya, ikan-ikan itu ditangkap dan dijadikan bahan makanan yang akan dikonsumsi manusia. Ikan-ikan tadi kan sudah gak sehat karena lingkungan yang jelek, kemudian setelah ikan itu dimakan manusia maka secara otomatis akan membawa penyakit ke tubuh. Dosa lanjutan secara tidak sadar telah kita lakukan pada sesama manusia yang diawali oleh penggunaan plastik dan sikap membuang sampah sembarangan.

Jadi, sudah tiga dosa kita dapat. Dosa pada alam, dosa pada hewan, dan dosa pada sesama manusia.

Kalau ekosistem tadi itu terjadi terus-menerus dan tak henti-hentinya selalu ada sampah yang menjadi limbah maka otomatis tugas kita sebagai khalifah yang mestinya harus menjaga bumi sudah kita langgar. Paling tidak meski sampah plastik yang kita buang katakanlah hanya satu, tapi ada berapa manusia lain yang melakukan hal sama seperi kita sehingga setiap hari produksi sampah plastik akan terus saja menumpuk.

Kalau sudah begitu, hidup kita tak lebih hanya melaksanakan dan menggerakkan roda kehancuran bumi secara perlahan dengan cara terus-menerus memproduksi alat-alat yang kelak akan merusak bumi. Tugas kita untuk menjaga bumi dari kerusakan sebagai pengganti Tuhan (khalifah) bisa saja gagal nantinya. Lalu apa yang akan kita jadikan alasan di mata Tuhan nanti?

Keterpautan antara Tuhan yang ditandai dengan semakin abainya manusia terhadap kelestarian alam sudah semakin jelas terjadi. Maka kulitas hidup kita sudah senyatanya juga perlu dikhawatirkan. Bukan hanya dari segi spiritual karena mulai mengabaikan perintah Tuhan untuk menjaga lingkungan, secara kesehatan pun bila terus-menerus begini, maka kualitas hidup akan semakin buruk. Semua makanan berasal dari hal-hal yang tercemar. Sudah pasti bila asal makanan tak sehat, penyakit selalu menyertainya.

Agaknya, kata-kata “Buanglah sampah pada tempatnya” di masa kini sudah tidak relevan lagi. Pasalnya, mau dibuang pada tempatnya atau tidak pun plastik akan tetap merusak lingkungan. Pepatah bijak mengatakan “don’t be a part of polution, but be a part of solution” (jangan menjadi bagian dari polusi, tapi jadilah bagian dari solusi). Membuang sampah pada tempatnya akan tetap menjadi polusi melihat semakin hari semakin banyak saja sampah yang kita hasilkan. Maka kuncinya, kata-kata peringatan itu perlu diganti menjadi: “Sudah berapa plastik yang anda pakai?” Agar manusia bisa sadar dan mangurangi penggunaan bahan-bahan yang bila kelak menjadi sampah akan semakin merusak lingkungan. (*)

  • Editor : Husnun
  • Uploader : slatem

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Knockout Lawan Tim Kuat!

Satreskoba Polres Makota Kembali Tangkap Pengguna Sabu

JKI Unggulan Prodi BK Unikama

Belajar Sejarah di Kota Warisan Dunia

Situs Sekaran Sungguh Luas, Sepakat Lestarikan

VIDEO

-->