AC Merk IAIN Palu

  • 10-01-2019 / 08:21 WIB
AC Merk IAIN Palu Rahma di depan cafe miliknya yang hancur diterjang Tsunami dan barangnya habis dijarah. (Buari/MP Online)

GEMPA dan tsunami di Kota Palu memang telah berlalu. Sudah beberapa bulan lalu. Tepatnya 28 September 2018. Dan saya baru ada kesempatan hadir di sini, Rabu hingga Kamis ini. Melihat langsung bagaimana dahsyatnya gempa yang disertai tsunami tersebut.

Meski sudah tiga bulan pasca musibah, kondisi Palu, Sigi dan Donggala masih berantakan. Saya lihat sendiri. Sisa puing-puing kehancuran terlihat di sana-sini. Masyarakat juga masih banyak yang tinggal di tenda-tenda. Baik di hunian sementara yang dibangun para relawan maupun yang dibangun sendiri di depan rumah mereka terkena dampak gempa 7,5 sr.

Diantar Rahma, seorang teman yang dulu kerja di Malang Post kami berkeliling, melihat beberapa tempat yang terdampak gempa. Termasuk kami sempatkan melihat langsung, bagaimana usaha cafe Rahma dan keluarganya hancur diterjang Tsunami. Tak kalah menariknya adalah kisah penyelamatan dirinya saat air laut ke permukaan. Harus lari ke bukit.

Melihat deretan ruko yang lokasinya beberapa meter dari bibir pantai, hancur dan hingga kini belum ada penanganan. Tidak berpenghuni. Lalu bergerak mendekati pantai, semuanya rata. Serta melihat jembatan kuning yang menjadi icon Kota Palu. Terputus. Jembatan yang melintas di atas delta sungai Palu itu habis.

Kami juga sempat datang ke Graha Pena Radar Sulteng. Koran terbesar di Sulawesi Tengah yang merupakan bagian dari Jawa Pos Grup, seperti halnya Malang Post. Ditemui tim redaksi, kisah tragis gempa dan tsunami kembali kami dapatkan. Melihat Graha Pena yang tampak kokoh dari luar mengalami retak-retak di bagian dalamnya. Hingga sampai saat ini redaksi belum bisa menempatinya lagi.

Buari menemui tim redaksi Radar Sulteng.(Sirhan/MP Online)

Roni, redaktur Radar Sulteng menyampaikan koran sudah terbit sepekan pasca gempa. Penuh perjungan saat kondisi listrik dan jaringan komunikasi belum pulih. Sampai saat ini mereka masih bekerja di ruang darurat di sebelah Graha Pena Radar Sulteng. "Kami masih beruntung tidak terkena dampak tsunami, karena ujung tsunami berhenti tepat di belakang kantor kami," ungkap Roni menunjukkan kondisi di belakang kantornya yang tak jauh dari pantai. 

Kami juga menyempatkan melihat beberapa lokasi lainnya. Menunjukkan bencana di Palu ini lengkap. Ada gempa dan tsunami, ada juga satu daerah yang satu kampung ambles masuk kedalam tanah. Disertai kebakaran saat itu, kondisi di lokasi Perumnas Balaroa seperti tempat yang kejatuhan batu meteor besar. Membentuk cekungan cukup luas, menyerupai mangkuk besar. Tak ada yang tersisa. "Di sini banyak yang meninggal, infonya usai gempa itu banyak warga yang kembali untuk berusaha ambil harta mereka, ternyata tanahnya ambles seperti ini," cerita Rahma yang mengajak kami melintas di bagian cekungan tadi.

Ada lagi daerah perumahan Petobo, kebalikan dari Balaroa. Tanah di Petobo justru muncul ke atas. Satu kampung seperti ditelan bumi. Dari bagian yang tak terdampak, tanan naik sekitar tiga meter, sehingga membentuk seperti gundukan seluas perumahan tersebut. Ceritanya perumahan ini seperti diaduk-aduk sebelum akhirnya terkubur di dalam tanah yang naik. Kami juga melihat sisa-sisa likuifaksi, tanah bergerak yang menghabiskan satu kampung. Tampak beberapa rumah masih keliatan di bagian atapnya saja.

Selanjutnya kami bergerak ke Sigi, Kabupaten yang kondisinya cukup parah tekena dampak gempa. Hampir tak ada satu pun rumah yang utuh. "Di sini jangan menghitung rumah yang terkena gempa, tapi berapa jumah rumah yang selamat," ungkap Rahma. Bahkan ada beberapa rumah yang terlihat rusak berat, hancur dihajar gempa. Daerah ini disebut-sebut sebagai rute patahan Paropolo yang dikatakan sebagai penyebab gempa. 

Banyak warga yang tinggal di hunian sementara. Dibangun oleh beberapa lembaga bantuan. Sedangkan yang dibangun pemerintah, hingga saat ini sebagian besar masih dalam proses pengerjaan. Sehingga tak sedikit warga mendirikan tenda di depan rumah mereka sendiri. Selain jumlah hunian sementara yang terbatas. Mereka tinggal di depan rumah untuk mengamankan harta benda mereka. Dari para pencuri.

Cerita haru di Palu ternyata tidak hanya soal gempa dan tsunami. Bikin trauma juga adalah pencurian dan penjarahan. Ada orang-orang yang memanfaatkan situasi dengan menjarah. Jika selama ini, informasi yang ada bahwa banyak warga yang ambil minum dan makanan di swalayan Alfamidi untuk bertahan hidup. Namun kenyataannya, penjarahan terjadi merata. Dilakukan hampir seminggu sejak gempa terjadi.

Tidak hanya swalayan, dealer motor, mall, pertokoan, perkantoran hingga kampus semua dijarah. Termasuk cafe milik Rahma, tak luput dari penjarahan. Hampir semua barangnya di cafe ludes dijarah. Meja kursi, pakaian dan AC yang ada di tempatnya semua diangkut. Tak bersisa. Bahkan mobil-mobil yang terseret tsunami, dijarah. 

"Habis semua dijarah, kaca mobil dipecah, tape diambil. Untung kita segera datang lagi untuk amankan mobil saya, kalau tidak ban dan mesinnya diangkut semua, seperti dealer motor di sebelah cafe saya, diperkirakan rugi Rp 2 Miliar karena display motor yang baru, semua dijarah," terang Rahma mengaku masih trauma dengan penjarahan tersebut.

"Jadi modusnya memang ada yang kontak dari kota memanggil temannya dari luar yang datang bawa truk, semua diangkut dengan truk. Kita bilang, tsunami di Palu ini luar biasa, sampai membuat mobil yang hanyut, bannya lepas semua," sebut Roni mengaku kantor Radar Sulteng  juga tak lepas dari aksi penjarah.

Menariknya, beberapa barang jarahan itu dijual kembali oleh mereka. Diantaranya ada sebuah AC ditawarkan melalui Medsos. Yaitu di grup Facebook Info Kota Palu (IKP). Rupanya si penjual lupa melepas stiker inventaris di AC tersebut. AC ini ternyata milik IAIN Palu. Kampus yang berada dekat pantai, terdampak gempa dan tsunami. Jadi korban penjarahan. Termasuk AC 'merk IAIN Palu' yang disikat penjarah. Ya, begitulah Palu yang masih memerlukan saluran bantuan. Perlu normalisasi serta rekonstruksi, fisik dan mental. (*)

*)Ditulis Buari, GM Malangpostonline.com

  • Editor : bua
  • Uploader : buari

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Kerangka Manusia Ditemukan di Hutan Gentaru

Siang-Siang Cari Rumput Malah Ketemu Kerangka Manusia

FISIP UMM Semakin Mantap Go International

Ekraf Jadi Sasaran RKPD 2020

View Terbaik Ada di Tol Mapan


GRATIS !!!

Untuk Berlangganan Berita Malang Post Online,
Ketik Nama dan Email di Form Berikut Ini.



VIDEO

-->